Oleh: karanetclub | Agustus 7, 2010

Berbisnis secara efisien

Eri memulai bisnis online ketika sambungan internet masih belum sehebat saat ini. Lewat situs lelang eBay, ia memasarkan produk kerajinan khas Bali. Oleh karena tak pernah bertemu langsung dengan pelanggan, ia merasa rajin mendeskripsikan produk dagangan dengan bahasa yang bersahabat. Menariknya, ada sejumlah pelanggan yang puas akhirnya menemui Eri secara pribadi, sekaligus berwisata di Pulau Dewata.

Perempuan yang kini berusia 30 tahun ini memiliki keyakinan bahwa berbisnis di dunia maya lebih efisien (dari sisi waktu) dan lebih efektif (dari sisi biaya) ketimbang berbisnis lewat format toko di dunia nyata. “Bagi saya, manfaat yang paling menguntungkan adalah kesempatan saya untuk bekerja di rumah dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga daripada bekerja di kantor dengan jam kerja yang ketat,” tutur ibu tiga anak ini.

Eri mengenang, 13 tahun silam, sungguh sulit baginya untuk merintis bisnis berbasis internet. Apalagi, ia tinggal di Desa Kedewatan, sebuah desa kecil di barat laut Ubud, Bali. “Di daerah saya tinggal, tantangan utamanya adalah layanan internet yang belum maksimal. Maklum, saya tinggal di daerah terpencil. Jadi, kalau layanan internet sedang down, saya harus menunggu sampai sambungan internet normal kembali,” kenangnya. Sampai sekarang, Eri masih tinggal di desa tersebut.

Proses menunggu ini sungguh menyiksanya. Sebab, seringkali internet down tak cuma dalam hitungan menit, melainkan sampai berjam-jam. Kalau sudah begini, “Saya pergi ke kota terdekat untuk mencari sambungan internet yang saya perlukan,” kata Eri, dengan senyum mengembang. Ia harus buru-buru mengakses internet, karena harus memberi respon secara berkala. Beruntung, sambungan internet yang “putus-nyambung” sudah berkurang, akhir-akhir ini.

Eri mengungkapkan dirinya mengecek e-mail dua kali dalam sehari, untuk memastikan para pelanggannya mendapatkan kabar terbaru darinya. Pasalnya, “Banyak pelanggan saya yang berada di negara-negara dengan zona waktu berbeda dengan Indonesia,” kata Eri. Ia merasa wajib menginformasikan status pembayaran pelanggan dan memastikan mereka telah menerima produk pesanan dalam kondisi baik.

Ia mengakui saat pertama kali berbisnis produk kerajinan Indonesia di dunia maya, ia merasa sulit memperoleh pelanggan. “Saya tak pernah tahu apa yang mereka inginkan,” akunya. Oleh karena tak pernah berhubungan langsung dengan pelanggan, Eri berusaha membuat mereka nyaman. Salah satunya dengan memakai bahasa yang bersahabat. Kini, pelanggan Eri tersebar di berbagai benua, dari Eropa, Amerika, Asia, bahkan Afrika! Menariknya, beberapa di antara mereka datang ke Bali dan bertemu Eri secara pribadi. “Kami menikmati keindahan Pulau Bali bersama-sama,” kata perempuan yang gemar berkebun, travelling, dan mengumpulkan barang antik serta unik ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: