Oleh: karanetclub | Agustus 12, 2010

Saman Hariyanto,Belajar Buka Usaha Sendiri

Mencari dan memilih jenis usaha pernah saya rasakan seperti mencari jarum yang jatuh pada rerumputan,juga seperti mencari mutiara di lautan yang luas,luasanya lautan seperti halnya luas dan banyaknya peluang-peluang di sekitar kita

banyaknya tawaran peluang usaha ,kadang membikin kita juga pusing dan bingung bahkan dari sekian ribu peluang itu tak satupun yang kita realisasikan

Tak bisa dipungkiri kadang saya sendiri sering menghakimi peluang2 yang berpotensi itu dengan pertanyaan2,bisnis ini cocok tidak dengan saya? laku tidak nantinya,bagaimana kalau bangrut ? perlu modal besar dan masih banyak lagi pertannyaan senada, yang ujung – ujungnya tidak ada satupun usaha yang pernah kita jalani,dan saya menyadarinya kemudian bahwa dalam bisnis itu harus dikedepankan adalah “Take Action”

mungkin kata lainnya berbisnis bukan hanya dibayangkan tapi harus dilakukan, Walaupun dalam hal ini saya tidak mengesampingkan masalah survey dan uji kelayakan sebelumnya,tetapi jangan berlebihan dalam hal ini, singkatnya Realistis dengan kondisi yang ada.Nah itulah setidaknya yang pernah saya rasakan ketika memulai usaha lampu hias pada tahun 1998. ujar Saman laki-laki kelahiran Probolinggo 30 tahun lalu

Merintis usaha dari nol. Itulah awal keberhasilan yang kini dirasakan oleh Saman. Berawal dari hobi membuat hiasan lampu yang berbahan baku kayu , tanpa disangka mampu menghidupi Saman, sehingga bisa bertahan hidup hingga sekarang.Usaha membuat hiasan lampu ini diawali ketika ia lulus SLTA, dan ia bingung mau mencari kerja dimana

Di tengah kebingungan tersebut, muncul gagasan untuk membuka usaha kerajinan hiasan lampu meja. “Saya memang

punya hobi membuat hiasan lampu. Tapi tak pernah terbersit produk dari hobi saya ini bisa mendatangkan rezeki melimpah,”

kata Saman. Dari modal sebesar Rp 400.000 tersebut, sebanyak Rp 250.000 dipergunakan untuk modal. Ia pun membeli kayu untuk dibuat lampu hias.

Persisnya hiasan lampu buatan Saman ini berupa dudukan penyangga lampu meja.Setelah jadi, Saman menawarkan kepada beberapa teman dekatnya. Saat itu untuk sebuah hiasan lampu, Saman menjualnya rata-rata Rp 50.000. Respon teman-temannya ternyata cukup bagus. Dalam waktu tidak lama, hiasan lampu buatan Kuncono laku keras. Bahkan melalui teman-temannya, mulailah banyak pesanan dari orang lain.

Pemasaran melalui mulut ke mulut ini membuat hiasan lampu yang dibuat Saman semakin dikenal oleh masyarakat. Pasar produk hiasan lampu Saman .kini tidak lagi hanya dipasarkan di kawasan Griya Bandung Asri, tempat tinggalnya. Hiasan lampu Saman pun mulai dipasarkan di Probolinggo dan sekitarnya. Tak puas dengan pasar di dalam Kota , Saman mencoba menembus pasar di daerah lain, antara lain,Jogjakarta, Surabaya dan Bali. Caranya, yakni dengan mengikuti berbagai pameran yang diselenggarakan di kota-kota tersebut. Cara ini terbukti berhasil. Produk hiasan lampu buatan Saman ini banyak diminati.

Saman menjelaskan Produk lampu hias yang didesain atas ide sendiri, model desain perpaduan gaya khas lampu jepang dengan sentuhan motif tradisional, koalisi perpaduan model jepang –

tradisional menjadikan lampu hias saman lain dari pada yang lain

Ada 3 jenis hiasan lampu ala japan yang dibuatnya. Pertama hiasan lampu duduk yang kini dijual seharga Rp 150.000. Kemudian hiasan lampu tinggi dengan harga jual Rp 350.000 serta hiasan lampu didnding yang mirip lampiun yang dijual antara Rp 125.000 hingga Rp 225.000 per buah. Ketelatenan Saman kini memang telah membuahkan hasil. Menurutnya, setiap tahunnya omset penjualan yang dapat dikantonginya mencapai Rp 30 juta. Omset ini sendiri diakui sebenarnya telah menurun dibandingkan pada awal tahun 2001.”Sekitar tahun 2001, setahun omset saya bisa sampai Rp 50 juta,” papar Saman.

Dengan memiliki usaha sendiri, bersama keluarganya. Bahkan melalui usaha yang dirintisnya dari nol ini, Saman memberikan pekerjaan bagi penduduk sekitar . Saman mengakui dirinya tak mungkin bisa sukses tanpa dukungan dari para karyawannya., setiap bulan mampu memproduksi hiasan lampu antara 50-30 buah.Kesuksesan Saman ini agaknya menjadi contoh tepat bahwa tidak selamanya sebuah usaha yang dirintis membutuhkan modal banyak.

http://klinikumkm.blogspot.com/2010/04/belajar-dari-pengalaman-buka-usaha.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: